Friday, March 6, 2026

Harmoni Beragama

 Join me as I take on the challenge of exploring how we can foster harmony among different religions and why achieving peace is more important than ever!

Religious harmony is all about living together in peace and mutual respect, valuing the diversity of faiths and beliefs that make our communities richer and more vibrant. It's about understanding that our differences are what make us stronger, not weaker. When people from different religious backgrounds come together, share their perspectives, and learn from each other, amazing things can happen. It fosters a sense of community, breaks down barriers, and builds bridges between people.

One of the biggest challenges we face today is the misunderstandings and stereotypes that often exist between different religious groups. For instance, some people might view Islam as a religion that promotes violence, simply because of the actions of a few extremists. But that's not the reality for the vast majority of Muslims who are peaceful, kind, and contributing members of their communities. Similarly, Christianity is often misunderstood as being intolerant or judgmental, when in fact, many Christians are at the forefront of promoting love, acceptance, and compassion. These stereotypes can lead to fear, mistrust, and even conflict.

Real-world examples of these challenges are plentiful. Think of the Rohingya crisis in Myanmar, where religious persecution led to a massive refugee crisis. Or consider the terrorist attacks that have occurred in various parts of the world, often carried out in the name of religion. These events highlight the urgent need for greater understanding, tolerance, and peace among different religious groups.

The media also plays a significant role in shaping public perceptions of different religious groups, often inadvertently perpetuating negative stereotypes. By being more mindful and responsible in their reporting, the media can help foster a more informed and empathetic public discourse.

So, how can we promote interfaith dialogue and cooperation? One way is through community-based initiatives, such as interfaith youth programs, cultural exchange events, and volunteer projects that bring people from different backgrounds together. For example, some cities have established interfaith councils that meet regularly to discuss issues of common concern and promote mutual understanding. These efforts can help build trust, foster empathy, and create a sense of shared humanity.

Education also plays a critical role in promoting interfaith understanding. By incorporating teachings about different religions and their histories into school curricula, we can help young people develop a more nuanced and informed understanding of the world's diverse faith traditions. This can help dispel myths, challenge stereotypes, and inspire a new generation of leaders to promote peace and understanding.

In addition to these efforts, individuals can make a difference by simply engaging with people from different faith backgrounds. By listening to their stories, asking questions, and sharing our own experiences, we can build bridges of understanding and create a more harmonious and peaceful world.

There's a powerful story that illustrates the transformative impact of achieving religious harmony. It's the story of the interfaith movement in Rwanda, which helped to bring people together and promote healing after the country's devastating genocide. Through initiatives like the Rwanda Interfaith Council, people from different faith backgrounds came together to promote forgiveness, understanding, and reconciliation. This movement helped to create a more peaceful and cohesive society, and serves as a powerful example of what can be achieved when people work together towards a common goal.

The story of Rwanda's interfaith movement is a testament to the human spirit and the power of compassion, forgiveness, and love. It shows that even in the face of great adversity, people can come together and create positive change.

In conclusion, working towards peace and understanding in a religiously diverse society is crucial for creating a world where everyone can live together in harmony. By embracing our differences and promoting interfaith dialogue and cooperation, we can build a brighter future for all.

So, what do you think about religious harmony? Share your thoughts in the comments below! Don't forget to check out our other videos on peace and community building for more inspiring stories and practical tips on how to make a positive impact in the world.

Keberagaman Agama

 Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!

Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.

Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.

Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.

Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.

Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.

Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.

Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!

Satu Dalam Keragaman

Bisakah kita benar-benar bersatu dalam keberagaman agama? Mari kita cari tahu bersama!

Kita sering bertanya-tanya, apa yang terjadi ketika kita bersatu dalam keberagaman agama? Apakah kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama? Indonesia adalah contoh nyata negara dengan keberagaman agama yang luar biasa, dan kita akan menjelajahi bagaimana keberagaman ini membawa dampak positif.

Salah satu tantangan terbesar dalam mencapai unity dalam keberagaman agama adalah stereotip dan kesalahpahaman. Kita sering memiliki pandangan yang salah tentang agama lain, hanya karena kita tidak memahami atau tidak tahu tentang tradisi dan kepercayaan mereka. Contohnya, kita mungkin berpikir bahwa semua orang dari agama tertentu memiliki pandangan yang sama, padahal kenyataannya sangat beragam.

Mungkin kita juga pernah mendengar cerita tentang konflik antara kelompok agama yang berbeda. Ini memang terjadi, tapi tidak berarti bahwa kita tidak bisa bersatu. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu dan berusaha untuk memahami satu sama lain. Dengan memahami perbedaan, kita bisa membangun kepercayaan dan menghormati satu sama lain.

Tapi, ada banyak contoh positif tentang keberagaman agama di Indonesia. Kita bisa lihat bagaimana masyarakat dari berbagai agama bekerja sama dalam kegiatan sosial, seperti membantu korban bencana atau membangun sekolah. Mereka tidak mempedulikan perbedaan agama, tapi fokus pada kebaikan bersama.

Misalnya, ada sebuah proyek yang melibatkan masyarakat dari berbagai agama untuk membangun tempat ibadah bersama. Mereka bekerja sama, berbagi ide, dan saling menghormati, sehingga proyek ini berhasil dan menjadi contoh bagi masyarakat lainnya. Ini menunjukkan bahwa ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa.

Kita juga bisa lihat bagaimana dialog antar agama dapat membawa perubahan positif. Ketika kita duduk bersama, berbagi cerita, dan mendengarkan satu sama lain, kita bisa memahami perbedaan dan menemukan titik temu. Ini adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih baik dan lebih harmonis.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa kesatuan dalam keberagaman agama bukan berarti kita harus menghilangkan perbedaan. Justru, kita harus merayakan perbedaan dan menemukan titik temu untuk kebaikan bersama. Ketika kita bersatu, kita bisa mencapai hal-hal luar biasa dan membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik.

Jadi, mari kita rangkum apa yang sudah kita pelajari. Ketika kita bersatu dalam keberagaman agama, kita bisa mencapai kekuatan dan keindahan yang luar biasa. Kita bisa hidup harmonis, saling menghormati, dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.

Jika kamu memiliki pengalaman tentang keberagaman agama di daerahmu, saya ingin mendengarnya! Silakan berbagi cerita di kolom komentar. Jangan lupa subscribe channel ini untuk diskusi yang lebih menarik!

Thursday, January 8, 2026

Saksi-Saksi Iman Sepanjang Sejarah


 

Saksi-Saksi iman

Ibrani 11:1-6, Kejadian 4 : 26, Kejadian 5: 21-23

 

Pendahuluan.

Kitab Ibrani pasal 11 secara runtut menjelaskan saksi-saksi iman yang hidup bergaul dengan Allah dan tidak hidup dalam kegelapan. Saksi-saksi iman itu mulai dari Habel yang dibunuh Kain, memilih untuk hidup mentaati Allah ditengah kehidupan manusia yang jahat, yang melawan Allah. Sebaliknya, Kain yang membunuh Habel, serta keturunannya justru hidup dalam kejahatan (Kejadian 4).  Saksi-saksi iman setelah Habel,kemudian Henokh hidup bergaul dengan Allah, hidup mentaati Allah meski harus menghadapi tantangan dan penderitaan dari mereka yang tidak beriman kepada Allah yang hidup dikuasai dosa dan kegelapan (Kejadian 5). Henokh adalah gambaran orang yang diangkat Tuhan sebelum kedatangan Tuhan yang kedua kali. Kalau Henokh diangkat Tuhan sebelum air bah, maka orang yang bergaul dengn Tuhan akan diangkat Tuhan ketika Tuhan datang sebagai hakim.

 

Saksi-saksi iman

Berdasarkan laporan Alkitab, manusia dicipta oleh Allah dan ditempatkan di taman Eden (Kejadian 1 dan 2). Tapi manusia yang diciptakan Allah mulia dan hidup dalam tempat yang baik, yaitu di Eden untuk mengikuti nasihat Ibis dan melawan Allah. Akibatnya manusia dikeluarkan dari Eden. Oleh kasihnya Allah menyapa Adam dan Hawa dan memberikan mereka pakaian dari kulit binatang,symbol pengampunan dosa yang Tuha berikan melalui pengorbanan Kristus di salib.

Setelah itu Adam dan Hawa memiliki keturunan Kain dan Habel. Kain hidup tidak beriman kepada Allah dan melakukan kejahatan, yaitu membunuh Habel. Keturunan Kain ini hidup dalam kejahatan, sebagaimana dijelaskan dalam kejadian 4. Sebaliknya keturunan Adam yang hidup dalam iman, mulai dari Habel yang dibunuh Kain dan tidak mempunyai keturunan, berlanjut  setelah Hawa melahirkan Set, dan kemudian Set melahirkan Enos, dan pada masa Enos Alkitab mengatakan orang mulai memanggil nama Allah.Bisa dikatakan pada masa Enos terjadi kebangunna rohani. Dari keturunan Enos ini lahirlah Henokh anak dari Yared. Henokh hidup bergaul dengan Allah dan kemudian diangkat Tuhan sebelum Tuhan menghakimi bumi dengan air bah pada masa Nuh.

Alkitab mengatakan manusia bertambah jahat, keturunan Kain yang tidak beriman kepada Allah, menikah dengan keturunan Set. Percampuran orang tidak beriman, dan mereka yang meninggalkan komunitas orang percaya, ternyata melahirkan orang-orang jahat. Kehidupan tanpa ian kepada Allah menghasilkan kehidupan yang jahat. Manusia hanya dapat hidup benar dalam iman kepada Allah.

 

Iman dan Ujian

Bernarlah iman yang murni layak untuk menerima ujian. Mereka yang beriman kepada Allah , hidup mentaati Allah. Henokh hidup bergaul dengan Tuhan, dan Henokh diangkat Allah sebelum Allah menghakimi bumi dengan air bah.

Demikian juga kita yang hidup menantikan kedatangan Yesus yang dedua kali perlu hidup bergaul dengan Allah, supaya kektika Yesus datang kita diangkat oeh Allah dan tidak dihakimi bersma duna yang aan dihancurkan oleh Allah karena kejahatan manusia.

 https://www.binsarinstitute.id/2026/01/saksi-saksi-iman-sepanjang-sejarah.html

Wednesday, November 19, 2025

Contoh Penulisan Metodologi Penelitian




 

METODOLOGI PENELITIAN

 

A. Tujuan Penelitian

Penelitian evaluasi kebijakan ini secara umum memiliki tujuan sesuai dengan apa yang telah dinyatakan dalam rumusan masalah, yaitu untuk mengevaluasi kebijakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) bidang pendidikan tinggi.

Tujuan umum penelitian ini diturunkan dalam beberapa pertanyaan penelitian seperti berikut:

1. Meneliti struktur kebijakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI).

2. Meneliti rumusan kebijakan KKNI.

3. Meneliti kondisi perguruan tinggi di Indonesia dalam menghadapi kebijakan KKNI.

4. Meneliti dampak kebijakan KKNI  bidang pendidikan  tinggi ?

 

B. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di tiga perguruan tinggi di Jabodetabek. Penelitian ini dilaksanakan Tahun 2015 sampai Tahun 2016.

C. Pendekatan, Metode dan Desain Model Penelitian

1. Pendekatan Penelitian

Pendekatan evaluasi yang akan digunakan dalam evaluasi kebijakan KKNI ini  adalah menggunakan pendekatan secara kualitatif. Pendekatan kualitatif dalam hal ini adalah pendekatan yang berorientasi pada eksplorasi, pengungkapan dan logika induktif. Yang dimaksud dengan pendekatan kualitatif bersifat induktif adalah evaluator fokus pada mendapatkan data dari sumber yang ada, tanpa mengedepankan harapan. Apa adanya data itulah yang dikumpulkan, dikategorikan, dan kemudian disimpulkan.

 

2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Metode kualitatif ini digunakan dengan alasan karena masalah-masalah penelitian perlu di gali untuk mendapatkan sebuah pengertian yang mendalam. Lebih jauh Creswell menjelaskan: This exploration is needed, in turn, because of a need to study a group of population, identify variable that can then be measured, or hear silenced voices.”

Data kualitatif bisa berupa dokumen atau catatan dari interview, catatan observasi lapangan, hasil kuesioner, hasil foto, video, email dan hasil pertemuan dengan responden. 

Data kualitatif ini memungkinkan pembaca mendapatkan pemahaman yang melampaui angka-angka dan statistik inferensi. Teknik pengumpulan data kualitatif dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian evaluasi ini adalah wawancara (interview) untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden. Teknik yang digunakan adalah wawancara tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode evaluasi. Kebijakan. Metode penelitian ini dapat disejajarkan dengan penelitian deskriptif, meski sesungguhnya memiliki perbedaan. Pada umumnya penelitian deskriptif hanya memaparkan apa yang terjadi pada fenomena dan kemudian diambil kesimpulan. Sedangkan penelitian evaluatif menuntut persyaratan kriteria, tolok ukur atau standar sebagai pembanding terhadap data yang diperoleh, setelah data itu diolah yang merupakan kondisi realitas dari obyek yang diteliti. Kesenjangan antara harapan dan kondisi realita itulah yang dicari. Dan dari kesenjangan itu diperoleh gambaran apakah objek yang diteliti itu sudah sesuai, kurang sesuai, atau tidak sesuai dengan kriteria.

Penelitian evaluatif ini bermaksud mengumpulkan data tentang perumusan kebijakan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia di perguruan tinggi. Maka dapat dipahami bahwa manfaat hasil penelitiannya juga untuk pihak yang membuat kebijakan dalam hal ini pembuat kebijakan KKNI, serta perguruan tinggi sebagai sasaran dari kebijakan tersebut. Berdasarkan data hasil penelitian itu dapat diketahui apa yang menjadi unsur-unsur lemah dari kebijakan itu. Jadi, penelitian evaluatif bermanfaat untuk pengembangan kualitas rumusan kebijakan.”

Metode penelitian evaluatif ini menggunakan metode-metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid dan dapat dipercaya dikaitkan dengan hasil kebijakan, perihal tujuan kebijakan yang telah ditetapkan secara formal oleh pembuat kebijakan. Evaluasi formal dalam hal ini berasumsi, ukuran terkait dengan manfaat atau nilai merupakan tujuan serta  target yang diumumkan secara formal. Sifat dari evaluasi formal adalah melakukan penilaian berdasarkan parameter yang ada pada dokumen formal, dalam hal kebijakan KKNI dan petunjuk pelaksanaan KKNI, serta pedoman kurikulum berbasisi KKNI.

 

1. Desain Penelitian

Desain penelitian evaluasi kebijakan penerapan KKNI ini sebagaimana telah dijelaskan dalam pendahuluan menggunakan model implementasi campuran, terdiri dari komponen-komponen utama seperti struktur kebijakan, karakteristik pelaksana, sikap pelaksana, dan dampak kebijakan KKNI.




2. Subyek Penelitian

Komponen-komponen yang ada dalam subyek langsung penelitian ini adalah sampel perguruan tinggi di Jabodetabek. Subyek penelitian adalah kepala program studi, kepala penjaminan mutu, dosen, yang dipilih untuk memperoleh informasi mengenai rumusan kebijakan KKNI, dan berbagai sumber lain yang dapat memberikan informasi terkait kebijakan KKNI.

E. Instrumen Penelitian 

1. Kisi-kisi instrumen

Pembuatan kisi-kisi instrumen didahului dengan pemaparan kajian teori untuk mendapatkan landasan dalam pengembangan instrumen. Berdasarkan pemaparan teori itu kemudian di buatlah penetapan komponen, indikator-indikator dalam kisi-kisi instrumen. Yang dimaksud dengan indikator adalah karakteristik yang dipunyai suatu variabel. Sedangkan kisi-kisi instrumen dibuat dengan tujuan untuk menyusun butir-butir instrumen sesuai kisi-kisi pengembangan instrumen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner, pedoman wawancara dan observasi.

Instrumen wawancara ditujukan kepada pengelola pendidikan dalam hal ini lembaga penjaminan mutu, dan kepala-kepala program studi. Sedangkan instrumen kuesioner ditujukan kepada dosen-dosen di perguruan tinggi. Selanjutnya keragaman pengumpulan data juga dilakukan dengan observasi dokumen. Data yang di dapat melalui wawancara dan kuesioner itu di cocokkan kembali dengan data berdasarkan dokumen.

Berikut ini adalah instrumen wawancara dan kuesioner yang akan dipergunakan untuk mendapatkan data lapangan.

 

 

 

 

Tabel 3.1 Kisi-kisi kuesioner

No

Indikator

No butir

Jumlah

1

 

 

CONTEXT

1.Perumusan kebijakan benar secara proses.

 

2. Isi Kebijakan.

 

 

 

3.Benar secara hukum

 

 

3. Benar secara Bahasa

 

 

4. Pemahaman Lingkungan eksternal kebijakan KKNI.

 

 

 

 

 

 1,2,3, 4,5,6,7,8

 

8

2.

 

 

INPUTS

- Karakteristik pelaksana

1.Kompetensi SDM

3.Dana

4.Akses Informasi

- Sikap Pelaksana

1.Komitmen PT

 

2.Komitmen Dosen  

 

9,10,11,12,13, 14,15,16,17,18,19,20

 

11

4

 

PRODUK/HASIL

1.Peningkatan kualitas kurikulum.

2. Peningkatan Kualitas PT

3.Peningkatan Kualitas lulusan

 

20,21,22,23, 24,25

6

 

Jumlah Butir

 

25

Pedoman wawancara yang digunakan adalah pedoman wawancara terstruktur. Namun dalam pengumpulan data, pedoman wawancara digunakan sebagai pandung, dan tidak kaku mengikuti alur yang ditetapkan.

 

Tabel 3.2 Kisi-kisi pedoman wawancara

 

No

Indikator

No butir

Jumlah

1

CONTEX

Struktur KKNI

1.Pemahaman Isi Kebijakan KKNI

2.Pemahaman  landasan hukum KKNI.

3. Pengetahuan Manfaat KKNI

4.lingkungan ekstenal kebijakan

1,2,3, 4,5,6,7,8

8

2

 

INPUTS

-Karakteristikpelaksana 1.Kompetensi SDM

2.Dana

3.Akses Informasi

-Sikap Pelaksana

1.Komitmen PT

 

2.Komitmen Dosen  

 

 

9,10,11,12,13,14,15, 16, 17, 18, 19

 

 

11

3

PRODUK/HASIL

1.Peningkatan kualitas kurikulum.

2. Peningkatan Kualitas PT

3.Peningkatan Kualitas lulusan

20,21, 22,23,24,25

 

 

6

 

Jumlah Butir

 

25

 

 

2. Validasi Instrumen

Validasi  instrumen dilakukan sebagai langkah validasi konsep. Validasi konsep dalam hal ini dilakukan oleh pakar dan panel, dengan maksud melihat kesesuaian antara butir-butir instrumen dengan indikator. Pakar yang dimaksudkan yang menjadi penelaah instrument ini  adalah mereka yang telah menjadi guru besar dalam bidang evaluasi. Dalam hal validasi panel yang dilakukan oleh para ahli, yaitu mereka yang memahami tentang evaluasi pendidikan serta kurikulum berbasis KKNI.

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner, pedoman wawancara dan pedoman observasi sebagai instrumen, triangulasi teknik pengumpulan data ini bertujuan untuk mendapatkan data yang akurat di lapangan. Namun, sebuah Instrumen yang baik, pembuatannya  harus melalui tahap analisis agar dapat diketahui apakah instrumen itu layak digunakan atau tidak. Sebuah instrumen dapat digunakan jika memenuhi syarat validitas. Apabila isntrumen tersebut telah memenuhi syarat validitas diharapkan data yang terkumpul tersebut dapat diakui sebagai data yang dapat dipercaya. Instrumen yang berupa kuesioner ditujukan kepada dosen pendidikan tinggi. Sedangkan istrumen wawancara ditujukan kepada pengelola pendidikan tinggi, kepala program studi dan kepala penjaminan mutu universitas.

Untuk melihat kesesuaian butir-butir pertanyaan dalam kuesioner dan butir-butir pertanyaan dalam pedoman wawancara dengan indikator yang dikembangkan berdasarkan kajian teori, dan melewati beberapa tahapan yang harus dilalui. Instrumen penelitian di validasi dengan menggunakan kuesioner dengan empat pilihan jawaban yang dipilih oleh panel. Pilihan jawaban menggunakan kolom SS, S, TS, STS, yang menyatakan tingkat kesesuaian antara butir-butir pertanyaan dalam kuesioner dan butir-butir pertanyaan dalam pedoman wawancara dengan kisis-kisi instrumen yang dikembangkan berdasarkan kajian teori. Pilihan SS menyatakan sangat setuju, “S” setuju, “TS” tidak setuju, “STS” sangat tidak setuju. Penggunaan 4 option dalam pilihan jawaban kuesioner berdasarkan pada akan digunakannya Content Validity Ratio sebagai teknik analisis data.

Dalam menghitung validitas butir soal kuesioner dengan menggunakan Content Validity Ratio, data harus dapat dipilah dalam dua bagian yang jelas yaitu “sesuai” atau “tidak sesuai,”sehingga dalam kuesioner kepada panel tidak menggunakan option dengan jumlah bilangan ganjil, karena dikuatirkan  akan ada nilai tengah yang menghasilkan jawaban yang tidak dapat digolongkan dengan jelas. Selanjutnya, validasi butir hasil kuesioner, jawaban SS dan S dapat diartikan panel setuju bahwa butir sudah “sesuai” dengan kisi-kisi yang ada dan dilambangkan dengan bilangan 1(satu), selanjutnya untuk jawaban “TS” dan “STS” dapat diartikan bahwa panel menyatakan butir “tidak sesuai” dengan kisi-kisi yang ada dan dilambangkan dengan bilangan 0 (nol). Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik pengumpulan data kualitatif.

 

Nilai CVR dari hasil penilaian 3 responden sebagai panel terdiri dari mereka yang memahami kurikulum dan kerangka kualifikasi nasional Indonesia menggunakan rumus:

 

CVR = (2Mp/M)-1

Keterangan :

CVR : Content Validity Ratio

Mp : banyak responden

M : Banyak pakar yang menggunakan

Persyaratan instrumen untuk dapat digunakan berdasarkan nilai CVR adalah sebagai berikut :

CVR < 0   : butir tidak baik

CVR = 0 : butir kurang baik

CVR > 0 : butir baik

Hasil validasi kuesioner dengan 25 butir pernyataan didapatkan hasil semua butir pernyataan atas tiga orang panel bernilai positif, dan nilai rata-rata adalah 1, berdasarkan nilai tersebut maka dapat dikatakan butir-butir tersebut baik, dan dapat digunakan dalam penelitian.

Hasil validasi butir pedoman wawancara dengan 25 butir pernyataan didapatkan hasil semua butir pernyataan bernilai positif, dan nilai rata-rata butir adalah 1, berdasarkan nilai tersebut dapat dikatakan butir-butir tersebut baik, dan dapat digunakan dalam penelitian.

F. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data kualitatif dapat dilakukan dengan menggunakan teknik kondisi yang alami, sumber data primer, dan teknik observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian evaluasi ini adalah wawancara (interview) untuk mengetahui hal-hal yang lebih mendalam dari responden.Teknik yang digunakan adalah “wawancara tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang lebih mendalam.” Dalam pengumpulan data melalui wawancara ini pewawancara membawa sederetan pertanyaan lengkap dan terperinci seperti yang dimaksud dalam interview terstruktur, namun tidak terikat dengan sederetan pertanyaan itu. Pedoman wawancara yang digunakan berupa garis-garis besar yang akan ditanyakan. Jadi wawancara yang digunakan adalah wawancara terstruktur terbuka dengan menggunakan lembar pedoman wawancara yang sudah tervalidasi, dengan urutan pertanyaan dan cara penyajian wawancara sesuai dengan keadaan yang ada. Wawancara dilakukan kepada dosen, kepala program studi, dan penjaminan mutu univesitas.

Selain wawancara juga digunakan instrumen “kuesioner, yaitu “teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab.” pertanyaan tertulis dalam kuesioner itu digunakan untuk “memperoleh informasi dari responden untuk mendapatkan data yang maksimal.” 

Selain wawancara dan kuesioner, teknik pengumpulan data juga dilakukan dengan observasi terhadap dokumen pendukung, antara lain Kurikulum, Rencana Pembelajaran Semester, serta dokumen visi, misi, tujuan universitas. Dokumen-dokumen tersebut di observasi untuk melihat sejauh mana universitas telah menerapkan KKNI di perguruan tinggi, demikian juga diobsrvasi, sejauh mana dosen terlibat dalam penerapan KKNI di perguruan tinggi. Dengan menggunakan instrumen yang beragam tersebut diharapkan triangulasi data dapat dilakukan, dengan demikian di dapatkan data jenuh tentang penerapan KKNI yang sedang berjalan di perguruan tinggi saat ini. Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini digambarkan dalam tabel dibawah ini.

 

Tabel 3. 3 Prosedur Pengumpulan Data

Komponen

Indikator

Sumber Daya

Bentuk Instrumen

Teknik

Context

 

Struktur KKNI

1.Perumusan kebijakan benar secara proses.

2. Isi Kebijakan.

3.Benar secara hukum

3. Benar secara Bahasa

4. Pemahaman Lingkungan eksternal kebijakan KKNI.

 

1.PT

2.Dokumen

1.Kuesioner dan wawancara

 

2.Kuesioner dan wawancara

 

3.Observasi arsip

1. Pengisian kuesioner dan wawancara.

2. Studi dokumentasi

INPUTS

 

1.Karakteristik Pelaksana

 

 

 

2. Sikap Pelaksana

1.Kompetensi SDM

2.Dana

3.Akses Informas

 

 

 

1.Komitmen PT

2.Komitmen Dosen

Kepala Prodi, Dosen, Kepala Penjaminan Mutu Universitas, dokumentasi\

 

1.Kepala prodi

2.Dosen

3.dokumentasi

 

1.Kuesioner

2.Wawancara

3.Dokumen

 

 

 

 

1.Kuesioner dan wawancara.

2.Pedoman observasi

 

Pengisian kuesioner dan wawancara

 

 

 

 

Pengisian Kuesioner, dan wawancara. Serta studi dokumentasi

 

Hasil

1.Peningkatan kualitas  kurikulum

2.Peningkatan kualitas PT

3.Peningkatan kualitas lulusan

1.Kepala program studi

2. Dosen

 

Kuesioner dan wawancara

Pengisian Kuesioner, dan wawancara.


G. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif, yang berbeda dengan analisis data secara kuantitatif. Analisis data secara kuantitatif dilakukan dengan menggunakan alat analisis, yaitu statistik, sedang analisis kualitatif yang menjadi alat analisisnya adalah peneliti sendiri, melalui penyusunan data secara sistematis.

Teknik pengumpulan data secara kualitatif menggunakan teknik triangulasi artinya pengumpulan data dilakukan secara terus-menerus sampai mendapatkan data  jenuh.” 

Selanjutnya, mengenai teknik analisis data kualitatif ini dilakukan dengan menyusun data yang telah dikumpulkan melalui wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain secara sitematis agar temuan tersebut dapat bahan informasi. Selanjutnya, analisis data dilakukan dengan mengorganisir data berupa informasi itu, menjabarkannya dalam unit-unit dengan melakukan sintesa, kemudian menyusun dalam pola, memilih yang penting untuk dipelajari, dan kemudian dibuat kesimpulan.

Dengan demikian jelaslah bahwa dalam sebuah penelitian kuantitatif, untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel maka yang diuji adalah instrumen penelitiannya, dalam hal ini menggunakan alat yaitu statistik,  sedangkan dalam sebuah penelitian kualitatif yang diuji adalah datanya. Dalam hal ini adalah derajat kepercayaan data atau biasa disebut keabsahan data. Yang menunjukkan bahwa data telah secara cermat dikumpulkan sesuai teknik yang digunakan dalam penelitian kualitatif, sehingga dapat dipertanggungjawabkan dari segala segi. Pengujian keabsahan data metode penilitian kualitatif meliputi uji credibility (validitas internal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (obyektivitas).” 

Pada penelitian kualitatif ini, pengecekan keabsahan data menggunakan teknik triangulasi, yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data dengan pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara. Sedangkan, triangulasi sumber data adalah untuk menguji kredibilitas data, yaitu dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, dalam penelitian ini sumber yang beragam itu adalah dosen, kepala program studi, kepala penjaminan mutu, dan juga perguruan tinggi yang berbeda. Sedang triangulasi teknik untuk menguji kredibilitas dilakukan dengan wawancara, kemudian dengan kuesioner dan dokumentasi.

Pengujian transferability atau keteralihan dalam hal ini adalah mengharuskan peneliti membuat laporan penelitian dengan sangat rinci, jelas, sistematis dan dapat dipercaya, sehingga pembaca menjadi jelas dan dapat memutuskan untuk mengaplikasikan hasil penelitian tersebut ke tempat lain. Pengujian auditability atau dependability dalam penelitian kualitatif adalah pengujian reliabilitas dalam penelitian kuantitatif. Peneliti harus dapat menunjukkan jejak aktivitas lapangannya, salah satunya adalah dengan adanya auditor atau pembimbing yang mengetahui bagaimana penelitian dimulai dengan penelitian menentukan masalah/fokus, memasuki lapangan, menentukan sumber data, melakukan analisis data, melakukan uji keabsahan data, sampai dengan laporan dan kesimpulan. Pengujian confirmability dalam penelitian kualitatif ini hampir sama dengan pengujian dependability, sehingga pengujiannya dapat dilakukan bersama-sama. Menguji confirmability adalah menguji hasil penelitian yang dilakukan dengan proses yang dilakukan. Jadi menurut Sugiyono, “bila hasil penelitian merupakan fungsi proses penelitian yang dilakukan, maka penelitian tersebut telah memasuki standar confirmability.”

https://www.binsarinstitute.id/2021/03/contoh-penulisan-metodologi-penelitian.html


Harmoni Beragama

 Join me as I take on the challenge of exploring how we can foster harmony among different religions and why achieving peace is more importa...